Abstract

This study aims to determine the relationship between digital literacy and early childhood behavior (PAUD) in PAUD . This research is an analytical quantitative type. The research design used was a study. The population that is the object of this study is all students in PAUD with a population of 100 people. The sample in this study was based on the calculation of the formula to 80 people. Sampling is carried out with the principle of pro-proportional sampling, where samples will be taken according to proportions. Based on the results of the study there is a relationship between digital literacy variables and student behavior in PAUD , P = 0.021. This can be known by the significance value (P) 0.021 <0.05. The conclusion from the results of the study conducted to 80 respondents consisting of children aged 3-5 years. Having a conclusion about the relationship of digital literacy in early childhood and how it relates to early childhood behavior in PAUD . 55.0% of respondents have good behavior with this digital literacy. The remaining 45.0% percent have bad behavior due to this digital literacy. Suggestions are needed the role of parents and PAUD in assisting and educating children on the benefits and dangers of using gadgets / other electronic equipment.

Pendahuluan

Di jaman serba digital seperti sekarang ini siapapun bisa mengakses TV ataupun internet dengan mudah, terlebih anak-anak. Dengan kemudahan mengakses ini, anak-anak tidak mengetahui dampak dari tontonan yang mereka lihat setiap hari, apakah akan mempengaruhi perilaku mereka atau tidak. Disinilah peran orang tua diharapkan menjadi benteng bagi anak mereka dalam memberikan edukasi dampak dari tontonan yang mereka lihat baik dari TV ataupun internet. Karena dengan peran orang tua memberikan edukasi secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat perihal tontonan yang baik bagi mereka maka akan mengurangi anak-anak yang mengikuti perilaku yang tidak baik dari tontonan tersebut hal inilah yang yang dinamakan literasi digital ().

Kemajuan teknologi digital saat ini telah mempengaruhi orang tua dalam mendidik anak. Di zaman yang serba digital seperti ini cara mendidik orang tua pun banyak perubahan yang dahulu lebih suka bermain bersama anak mereka namun saat ini sudah banyak mengalami perubahan dalam mendidik anak contohnya orang tua lebih mudah memberikan dan mengenalkan teknologi kepada anak dengan alasan agar anak bisa diam dan tidak rewel. Cara ini diakui oleh banyak orang tua agar anak-anak mereka tidak rewel dan tetap diam.

Namun banyak orang tua yang memberikan kemudahan akses teknologi kepada anak-anak mereka tanpa melakukan pantauan terhadap mereka. Para orang tua sering kali memberikan perangkat elektronik tanpa memberikan batasan akses untuk anak mereka. Tanpa di sadari anak-anak sudah kecanduan gadget. Namun hal ini masih di anggap sepele oleh orang tua, sebab orang tua menganggap bahwa sekarang adalah jaman digital jaman serba canggih, jika tidak menggunakan gadget maka ada anggapan ketinggalan jaman danorang tua belum mengerti bahwa kecanduan gadget sangat berbahaya bagi anak-anak ().

Anak-anak yang tidak didampingi dalam penggunaan elektronik lama-kelamaan akan mengalami kecanduan. Dalam kehidupan sehari-hari mereka selalu menggunakan peralatan elektronik tanpa ada batasan. Jika suatu hari orang tua baru menyadari jika perilaku anak mereka menjadi buruk karena peralatan elektronik itu, mereka pasti akan menyitananya. Namun anak yang sudah kecanduan terhadap barang elektronik akan mengamuk jika hal itu dipisahkan oleh mereka. Dan akan mengganggu psikologis mereka dikemudian harinya.   Pada kenyataannya, risiko anak-anak yang rentan secara psikologis terhadap hasil negatif diperburuk oleh kecenderungan mereka untuk menghabiskan lebih banyak waktu online tetapi diimbangi dengan tingkat melek huruf yang lebih rendah (bertentangan dengan hubungan langsung dan tidak langsung). Di antara mereka yang tidak rentan, literasi digital terkait lemah dengan hasil negatif.

Banyak aspek perkembangan anak yang harus melakukan penyesuaian terhadap lingkungan yang sudah berbasis teknologi. Misalnya berkaitan dengan teknologi digital pada mainan anak, yang mana anak sangat membutuhkan pendampingan orang tua pada anak usia dini dalam penggunaan teknologi digital pada mainan tersebut.

Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI) yang menyebutkan bahwa pada tahun 2015 akses televisi dalam keluarga masyarakat di Indonesia mencapai 89,6% dari seluruh jumlah populasi atau sekitar 228,9 juta jiwa. Sedangkan pengguna internet 29,6% atau sekitar 75,6 juta jiwa.Angka tersebut bukanlah angka yang kecil. Diharapkan perhatian orang tua dan guru memberikan pendidikan dan ketrampilan kepada anak mereka dalam memilih tayangan yang positif., kemampuan ini dinamakan literasi digital (Alia et al., 2018).

Teknologi hiburan seperti televisi, internet, video game, iPod, iPad, dan lainnya telah berkembang begitu pesat sehingga membuat kita hampir tidak menyadari dampak signifikan dan perubahan gaya hidup pada keluarga ().

Literasi digital juga merupakan kemampuan dalam memahami teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk mengkomunikasikan konten/informasi dengan bentuk kognitif dan teknikal 4.

Literasi digital secara sederhana mengarah pada kemampuan audience (masyarakat) yang mengerti terhadap teknologi digital. Kemampuan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kritis masyarakat terhadap digital saat ini. Sehingga dengan adanya literasi digital yang baik terhadap orang tua dan guru diharapkan anak-anak usia dini tidak mengikuti perilaku yang negatif dari tayangan digital. Karena saat ini segala kegiatan belajar-mengajar tidak lepas dari peran teknologi (A’yuni, 2015).

Sekarang ini sudah banyak tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memperkenalkan teknologi sebagai media pembelajaran. Beberapa PAUD yang memiliki standar internasional bahkan memberikan tugas dalam bentuk digital. Ambil saja contoh para siswa/i dapat mengerjakan tugas dari gadget mereka dengan melakukan pengunduhan (Pentury, 2018). Dengan alasan itu juga banyak orang tua yang memberikan perangkat elektronik begitu saja pada anak mereka tanpa didampingi (Basyiroh, 2017).

Literasi digital juga diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk. Komputer merupakan komponen dalam literasi media yang merupakan kemahiran penggunaan literasi media meliputi komputer, internet, telepon, PDA dan peralatan digital yang lain (). Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulumengenai media digital pada kategori sedang dan yang mempengaruhi terkait literasi media digital adalah faktor lingkungan kelurga.Berdasarkan artikel diatas dapat kita ketahui jika orang dengan tingkat jenjang pendidikan mahasiswa masih berada di level basic dalam meliterasi media digital ().

Meskipun dalam periode terakhir dianggap sebagai periode perkembangan lambat, gerakan literasi media di Indonesia sempat menggeliat. Misalnya, pada tahun 2012, melalui dukungan TIFA Foundation, beberapa lembaga NGO menjalankan program literasi media dan media watch. Diantaranya, Yayasan Pengembangan Media Anak, lembaga yang didirikan pada tahun 2004 hingga saat ini terus berupayamelakukan program proteksionis (perlindungan dan pemberdayaan), partisipatif dan kampanye penyadaran masyarakat (social movement) terkait pengaruh negatif media 10.

Penelitian mengenai literasi digital memang masih jarang dilakukan terutama di Indonesia. Subyek penelitian dilakukanterhadap kalangan usia muda dengan rentang usia 17–21 tahun yang merupakan pengguna aktif media sosial (Silvana et al., 2018). Dari penjabaran diatas dapat kita ketahui tidak semua perkembangan teknologi hanya memmiliki efek yang negatif. Untuk anak berusia 17-21 yang merupakan pengguna aktif media digital program literasi digital memberikan dampak yang positif. Sekarang ini mereka dapat mengakses dengan mudah semua pengetahuan dan informasi dari tangan mereka. Selain itu rentan usia ini mereka sedang dalam masa ingin mencari tahu hal-hal yang mereka sukai. Dengan adanya era digital ini mereka dapat dengan mudah mencari informasi yang mereka butuhkan.

 Ellen Johana Helsper, David Smahel melakukan sebuah survei dengan sampel acak dari 18.709 anak-anak yang menggunakan internet antara 11 dan 16 tahun dilakukan di 25 negara Eropa. Studi ini menunjukkan bahwa ada hubungan interaksional dan tidak langsung antara variabel psikologis dan literasi digital dan EIU. Anak-anak yang rentan secara psikologis dengan tingkat keterlibatan digital yang lebih tinggi memiliki hasil yang paling negatif sementara yang paling berisiko adalah anak-anak yang tidak rentan dengan tingkat melek huruf yang tinggi (hubungan interaksional) ().

Priscila Berger, Jens Wolling penggunaan media digital yang intensif di kalangan anak-anak dan remaja menimbulkan kekhawatiran tentang risiko online. Sebagai tanggapan, kerangka kerja digitaliteriterasi untuk pendidikan formal biasanya mencakup seperangkat keterampilan perlindungan. Mengingat bahwa guru memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan kerangka kerja tersebut, penelitian ini menyelidiki faktor-faktor yang terkait dengan praktik guru dalam membina ketrampilan perlindungan digital. Oleh karena itu, data dari survei yang dilakukan dengan 315 guru di negara bagian Thuringia, Jerman, dianalisis. Temuan menunjukkan hubungan positif antara atribut penting guru dengan keterampilan perlindungan digital, pengetahuan yang mereka miliki tentang pedoman untuk pendidikan media, pelatihan media formal mereka, dan media mereka dan penggunaan teknologi di kelas ().

Dari pemaparan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara literasi digital terhadap perilaku anak usia dini di PAUD Farhati Depok. Dengan banyaknya tontonan baik melalui media elektronik seperti TV dan internet yang dapat membahayakan bagi anak-anak, terutama anak usia dini, maka sangat dibutuhkan literasi dan pendampingan terhadap mereka terutama kepada orang tua agar anak tidak meniru perilaku yang tidak baik dari tontonan yang mereka lihat melalui media tersebut.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis kuantitatif yang bersifat analitik. Suatu peneliti yang bertujuan untuk menganalisis atau penelitian hubungan literasi digital pada anak usia dini dan bagaimana hubungannya dengan perilaku anak usia dini pada PAUD Farhati Depok. Penelitian jenis kuantitatif digunakan karena peneliti mengambil sampel dari satu populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur pengumpulan data (Notoatmodjo, 2010).

Desain penelitian yang digunakan ialah studi cross sectional atau potong lintang. Desain studi cross sectional digunakan karena dapat memberikan informasi atau gambaran analisis dalam satu waktu yang bersamaan atau dengan kata lain yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika kolerasi antara literasi digital dan perilaku anak, dengan cara pendekatan, obsevasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).

Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Desain ini dapat mengetahui dengan jelas mana yang jadi pemajan dan outcome, serta jelas kaitannya hubungan sebab akibatnya. Prosedur pengumpulan data ini ialah dengan membagikan kuisioner kepada responen yaitu anak-anak dengan rentan usia 3-5 tahun. Penelitian ini mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena variabel independent (perilaku) dan variabel dependent (literasi digital) di PAUD Farhati Depok mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel tersebut.

Penelitian dilakukan selama 4 bulan dari Maret sampai Juni 2020 dengan sampel sebayak 80 orang karena jumlah populasi yang ada di bawah 100. Data yang didapat melalui kuesioner selanjutnya dianalisa menggunakan analisis univariat.

Analisis univariat adalah analisa yang dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian, digunakan untuk mendapatkan distribusi frekuensi dari variabel independen dan dependen sehingga dapat diketahui jumlah dan persentasi dari masing-masing variabel.

Hasil dan Pembahasan

Distribusi frekuensi hubungan literasi digital pada perilaku anak usia dini di PAUD Farhati Depok dapat dilihat pada tabel 1. Anak usia 3 tahun memiliki frekuensi 25% (20 orang), 4 tahun 62,5% (62 orang), dan 5 tahun 12.5% (10 orang). Berdasarkan pada pemahaman yang tinggi terhadap literasi digital didapati jumlah sebanyak 45% (36 orang), dan responden yang memiliki pemahaman yang rendah pada literasi digital sebanyak 55% (44 orang). Kemudian berdasarkan perilaku anak, sebanyak 36.3% (29 orang) memiliki perilaku yang buruk, dan sebanyak 63.8% (51 orang) responden yang memiliki perilaku baik.

Variabel Frekuensi Persentase %
Usia
3 tahun 20 25.0%
4 tahun 50 62.5%
5 tahun 10 12.5%
Literasi Digital
Rendah 36 45.0%
Tinggi 44 55.0%
Perilaku
Buruk 29 36.3%
Baik 51 63.8%
Table 1. Distribusi Frekuensi Responden
Variabel Literasi Digital Total P - value OR
Rendah Tinggi
f % f % f %
Perilaku 0.021 3.000 (1.166 – 7.716)
Buruk 18 62.1% 11 37.9% 29 100%
Baik 18 35.3% 33 64.7% 51 100%
Jumlah 36 45.0% 44 55.0% 80 100%
Table 2. Hubungan Literasi Digital dengan Perilaku Anak Usia Dini di PAUD Farhati Depok

Hubungan literasi digital dengan perilaku anak dapat dilihat pada tebel 2. Sebanyak 36 responden (45.0%) memiliki perilaku yang buruk akibat dari dampak literasi digital, dan sebanyak 44 responder (55.0%) memiliki perilaku yang baik akibat dari dampak literasi digital. Hasil uji statistik di dapat nilai P = 0,021 berarti P<0,05, sehingga dapat di simpulkan ada hubungan variabel literasi digital anak usia dini pada PAUD Farhati Depok. Hasil dari nilai OR = 3.000 yang artinya literasi digital mempengaruhi perilaku anak usia dini 3 kali lebih besar 14.

Hubungan Literasi Digital pada Perilaku Anak Usia Dini

Literasi digital harus mengembangkan kemampuan mengembangkan kemampuan khalayak baik secara intelektual yaitu memahami pesaan media yang khas. Mengembangkan kemampuan emosi, merasakan hal yang diarsakan diri sendiri dan orang lain dari suatu pesan. Mengembangkan kematangan moral dalam kaitannya dengan konsekuensi moralitas bagi setiap orang. Literasi digital bergerak untuk melihat pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan oleh pesan-pesan media dan belajar mengantisipasinya ().

Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p value = 0,021 dengan p value < 0,05 sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara literasi digital terhadap perilaku anak usia dini di PAUD Farhati Depok. Anak-anak usia dini di PAUD Farhati Depok yang tidak mendapatkan literasi digital yang cukup cenderung meniru tontonan yang mereka lihat dan membawa dampak pada perilaku keseharian mereka, seperti perilaku agresif, meniru perilaku dan manfaat yang positif seperti mengasah ketrampilan sang anak. Dikarenakan arena kurangnya literasi digital terhadap orang tua sebanyak 45% atau 36, anak masih meniru perilaku yang tidak baik pada tontonan yang ditampilkan di media internet/ tv, dan sisanya sebanyak 55 % atau 44 anak yang mendapatkan literasi digital dari orang tua mereka sehingga tidak secara khusus terpengaruh terhadap tontonan yang mereka lihat,karena mereka diarahkan untuk melihat tontonan sesuai usia mereka.

Peluang Risiko
Motivasi Konsekuensi Motivasi Konsekuensi
Penggunaan umum Kemampuan teknis, literasi media Penggunaan umum Ketergantungan
Pendidikan dan pembelajaran Pengetahuan, keterampilan, kemajuan karir Ketertarikan komersil Konsekuensi finansial, eksploitasi data
Partisipasi dan keterlibatan sipil Keterlibatan sipil Penyerangan Membahayakan, kegelisahan, perilaku agresif
Kreativitas Keterampilan kreatif Seksualitas Kontak personal dengan orang asing dan kekerasan seksual
Identitas dan hubungan sosial Identitas hubungan sosial Nilai, ideologi Pemahaman menyimpang
Table 3. Peluang dan Resiko Penggunaan Internet pada Anak Menurut 16

Perilaku yang positif ini juga tidak lepas dari peran orang tua yang mengarahkan mana yang baik dan mana yang buruk. Anak-anak tersebut belajar dari literasi digital dan mulai menirukannya karena mereka merasa jika itu bukanlah hal yang buruk. Peran orang tua disini mengatur peralatan elektronik, termasuk juga aplikasi yang ada di dalam gadget agar sesuai dengan usia anak-anak mereka.

Selama ini literasi dipahami sebagai kegiatan membaca dan menulis saja. Padahal, literasi mencakup kemampuan membaca, memahami, dan mengeapresiasi berbagai bentuk komunikasi secara kritis. Pada masa perkembangan awal, literasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa dan gambar dalam bentuk yang kaya dan beragam untuk membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, melihat, menyajikan, dan berpikir kritis tentang ide-ide. Perkembangan berikutnya menyatakan bahwa literasi berkaitan dengan situasi dan praktik sosial. Kemudian, literasi diperluas oleh semakin berkembangnya teknologi informasi dan multimedia. Setelah itu, literasi dipandang sebagai konstruksi sosial dan tidak pernah netral. Literasi digital bergerak untuk melihat pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan oleh pesan-pesan dan belajar mengantisipasinya 3.

Hasil penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa literasi digital harus mengembangkan kemampuan mengembangkan kemampuan khalayak baik secara intelektual yaitu memahami pesan media yang khas. Mengembangkan kemampuan emosi, merasakan hal yang dirasakan diri sendiri dan orang lain dari suatu pesan. Mengembangkan kematangan moral dalam kaitannya dengan konsekuensi moralitas bagi setiap orang. Literasi digital bergerak untuk melihat pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan oleh pesan-pesan media dan belajar mengantisipasinya 15.

Kesimpulan

Dari hasil penelitain yang dilakukan kepada 80 responden yang terdiri dari anak-anak berusia 3-5 tahun dapat ditarik kesimpulan bahwa memang ada hubungan literasi digital pada perilaku anak usia dini di PAUD Farhati Depok. Sebesar 55.0% responden memiliki perilaku yang baik dengan adanya literasi digital ini. Sisahnya sebesar 45.0% persen memiliki perilaku yang buruk akibat literasi digital ini. Diperlukan peran orang tua serta pihak di PAUD Farhati Depok dalam mendampingi dan mengedukasi anak manfaat serta bahaya dalam menggunakan gadget/peralatan elektronik lainnya. Beri penjelasan tentang apa yang sedang dipelajari. Ketika anak tertarik pada hal atau konten yang menurut orang tua atau pihak guru kurang sesuai, beritahu mereka mengapa ini baik atau mengapa yang lainnya tidak baik.

References

  1. Silvana Hana, Darmawan Cecep, Pendidikan Literasi Digital di Kalangan Usia Muda di Kota Bandung. PEDAGOGIA. 2018; 16(2):146-146.
  2. Alia Tesa, Irwansyah Pendampingan Orang Tua pada Anak Usia Dini dalam Penggunaan Teknologi Digital [Parent Mentoring of Young Children in the Use of Digital Technology]. Polyglot: Jurnal Ilmiah. 2018; 14(1):65-65.
  3. Pratiwi N, Pritanova N, Pengaruh Literasi Digital Terhadap Psikologis Anak Dan Remaja. Semantik. 2017; 6(1):11-11.
  4. Renee Hobs, Coiro Julie, Design Features of a Professional Development Program in Digital Literacy. Journal of Adolescent & Adult Literacy. 2018; 0(0):1-9.
  5. A’yuni Q Q, Literasi Digital Remaja Di Kota Surabaya. Jurnal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya. 2015; 4:1-15.
  6. Pentury Helda Jolanda, Pengembangan Literasi Guru PAUD Melalui Bahan Ajar Membaca, Menulis dan Berhitung Di Kecamatan Limo dan Cinere. DIKEMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat). 2018; 1(1):14-21.
  7. Basyiroh I, Program Pengembangan Kemampuan Literasi Anak Usia Dini. Tunas Siliwangi. 2017; 3(2):120-134.
  8. Atep S, Dewi R, Literasi digital abad 21 bagi mahasiswa PGSD : apa, mengapa, dan bagaimana. Current Research in Education: Conference Series Journal. 2019; 1(1):1-7.
  9. Kurniawati J, Baroroh S, Literasi media digital mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Jurnal Komunikator. 2016; 8(2):51-66.
  10. Syukri Muhammad, Sujoko Anang, Safitri Reza, Gerakan dan Pendidikan Literasi Media Kritis di Indonesia (Studi Terhadap Yayasan Pengembangan Media Anak). MEDIAKOM. 2019; 2(2):111-134.
  11. Helsper Ellen Johanna, Smahel David, Excessive internet use by young Europeans: psychological vulnerability and digital literacy?. Information, Communication & Society. 2020; 23(9):1255-1273.
  12. Berger Priscila, Wolling Jens, They Need More Than Technology-Equipped Schools: Teachers’ Practice of Fostering Students’ Digital Protective Skills. Media and Communication. 2019; 7(2):137-147.
  13. Notoatmodjo S, Rineka Cipta: Jakarta; 2010.
  14. Salehudin Muhammad, Literasi Digital Media Sosial Youtube Anak Usia Dini. Potensia. 2020; 5(2):1-7.
  15. Setyaningsih Rila, Prihantoro Edy, AbdullahHustinawati Model Penguatan Literasi Digital Melalui Pemanfaatan E-Learning. Jurnal ASPIKOM. 2019; 3(6):1200.
  16. Green Lelia, Berg: New York; 2010.